Tapi Ya Gitu, Rencananya Juga Belum Ada
Ini yang masih aku ingat: Tanggal 20 Juni adalah hari terakhir pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di tahun 2020. Waktu itu, penjualan masker dan penyanitasi tangan tinggi sekali dan berita masih meramaikan kasus penyiraman terhadap salah satu penyidik senior lembaga antirasuah. Aku ingat hari itu sebab itulah hari aku nekat mendaftar di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Sampai hari pendaftaran itu, mungkin tak kurang dari tujuh hari aku baru berkenalan dengan jurusan asing ini. Minggu itu aku banyak menghabiskan waktu di berbagai media berisi kiat-kiat memilih jurusan yang tepat, setelah sebelumnya aku merelakan jurusan kriminologi karena satu dan lain hal (sebenernya lupa).
Kalau mengingat lebih jauh lagi, selama tiga tahun ber-SMA ria, aku tidak pernah memutuskan untuk mau ke mana nantinya. Saat kelas tiga SMA, di mana para alumni mulai berdatangan memasarkan kelebihan kampusnya masing-masing, pertanyaan mau kuliah di mana semakin mewujud. Aku yang tidak tau harus menjawab apa, karena memang tidak tau mau ke mana, cuma bisa mengatakan tidak tau. Kadang itu cukup, kadang ada yang memaksa jawaban lain. Kalau sudah begitu, aku jawab saja nama perguruan tinggi yang kuingat dari selebaran yang mulai berserakan di kelas. Selebihnya, aku tidak pernah merencanakan mau ke mana.
Entah sejak kapan, tapi aku selalu membatasi diri untuk tidak merencanakan sesuatu jauh-jauh hari. Aku percaya, semakin jauh kita merencanakan sesuatu, maka semakin banyak pula waktu bagi Semesta untuk menyusun rencana tandingan untuk menggagalkannya. Sebaliknya dengan rencana spontan uhuy yang kita buat secara mendadak, Semesta akan kaget saat mendengarnya hingga tidak sempat menyusun rencana tandingan. Rencana pun berjalan lancar, setidaknya itu teorinya.
Bahkan, semua pilihan sekolahku hingga SMA bukan sesuatu yang aku rencanakan. Tiap pilihan tersebut berasal dari saran ibuku yang dalam kedipan mata langsung aku iyakan. Aku tidak pernah tau pernak-pernik tiap sekolah itu saat masa pendaftaran, yang aku tahu hanya kedua SD-ku merupakan sekolah islam, dan SMP-SMA-ku berjarak tidak lebih dari seratus langkah. Tugasku hanya memantau apakah ada namaku dalam laman daftar peserta didik baru mereka. Sekarang, bisa dengan yakin aku katakan tidak ada yang kusesali dari keputusan asal-asalan itu. Pilihan ibu memang tidak pernah salah, bahkan jika ia sudah merencanakannya jauh-jauh hari sekalipun. Semesta pasti tunduk. Hebat ibu.
Contoh keputusan lain yang aku ambil tanpa pertimbangan, tapi berujung menyenangkan adalah menjadi bagian dari film pendek kecil. Pada sebuah perhelatan drama untuk tugas mata pelajaran Seni Budaya di bangku SMA, kelasku merencanakan sebuah produksi film pendek amatiran bertajuk cerita detektif. Aku diminta oleh kawanku yang mengambil peran sutradara untuk memerankan tokoh yang akan mati, dan nantinya menjadi pusaran misteri utama sepanjang film. Dengan antusiasme untuk meninggal, aku langsung mengiyakannya tanpa tau apa-apa soal printilan produksinya nanti. Pokoknya kamu bakal mati, kata sutradara. Gampang, kataku.
Benang merah ini akan terjadi pada Adegan 37. Skenarionya begini: Aku dipaksa minum obat, lalu entah karena overdosis, alergi, atau maha hebat sang penulis dengan segala skenario di kepalanya, aku keracunan. Demi efek mulut berbusa ala keracunan yang (memaksa) realistis, sutradara memintaku untuk menggosok gigi dan menyimpan busa-busa odol dalam mulut, kemudian mengerupsikannya saat kamera mengambil gambar. Gampang, kataku.
Ternyata tidak gampang.
Potongan adegan yang hanya berdurasi tiga detik pada film akhir, perlu kuulang hingga empat kali. Artinya: Aku menggosok gigi, menyimpan busanya dalam mulut, dan memuntahkannya di depan kamera sebanyak empat kali. Hanya sebentar, tak lebih dari 30 menit untuk menyelesaikan semuanya. Hasilnya? Rekamanku yang sedang keracunan dengan akting yang (akhirnya) disetujui sutradara, serta mulut kebas yang hampir kehilangan indra perasa. Semua makanan jadi rasa odol hari itu. Aktor yang hebat. Aku tahu.
Tapi sampai sekarang, aku masih belum sempat menonton film pendek tersebut karena tidak pendek-pendek amat ternyata. Durasinya lebih dari satu jam, yang mana akan lebih bermanfaat jika dipakai untuk menonton film yang diproduksi secara profesional. Tapi tidak apa, senangnya agung sekali meski produksinya hanya setitik.
(Bridging-nya bingung, jadi Oh ya saja) Oh ya, aku suka mengagungkan apa yang setitik. Itu alasan kenapa aku mengatakan mengagungkan apa yang setitik alih-alih membesarkan apa yang kecil, karena aku suka membesarkan apa yang kecil. Aku adalah orang yang mengisi ember dengan air keran, mengaduknya dengan garam, kemudian dengan lantang mengatakan: Aku menciptakan laut! Tidak akan ada yang percaya, bahkan jika aku bisa menganalogikannya dengan lebih baik. Tapi tidak apa, aku akan tetap merasa sombong dan mengenakan jubah-Nya sepanjang hari. Setidaknya hingga ember itu dikuras sebab ibu mau mengepel. Silakan ibu.
Maksud yang ingin kusampaikan begini: Tahun kemarin, ada banyak hal yang aku lakukan. Hanya sedikit yang layak ditulis dalam CV atau laman pencarian kerja, tapi tidak apa. Banyak hal setitik yang menurutku jauh lebih membanggakan, meski jika kutulis dalam CV pun sepertinya tidak akan mengesankan siapa-siapa.
Tahun kemarin aku menyelesaikan (lebih) banyak buku (dari tahun sebelumnya). Ada yang kubaca dengan cepat, ada yang butuh berbulan-bulan, ada pula yang tidak selesai. Sidang seminarku asik lancar jaya, meski paparannya terpaksa aku siapkan haminsatu sebab pemberitahuan yang mendadak (kelancaran ini aku atribusikan pada Semesta, yang mana juga ikut kaget karena pemberitahuannya dadakan, sehingga tidak sempat menyusun rencana tandingan untuk merusak seminarku). Banyak zona tidak nyaman yang aku susupi. Banyak yang menyenangkan, lebih banyak lagi yang tidak.
Aku kehilangan banyak barang tahun kemarin. Dua buah dompet (dengan rincian: dua KTP [KTP pertama hilang di dompet pertama, satunya lagi hilang di dompet selanjutnya], satu STNK, dua kartu debit, dan satu kartu mahasiswa), satu ponsel, satu helm, dan satu jaket. Awalnya sedih, tapi aku pikir tidak banyak orang yang berkesempatan kehilangan barang sebanyak ini dalam satu tahun.
Tahun kemarin juga, jika ditotal, aku berolahraga sebanyak tujuh kali. Tidak banyak, tidak apa-apa. Tapi semoga bisa memperpanjang usiaku selama beberapa menit setidaknya (?), kalau tidak juga ya tidak apa-apa. Aku juga bertemu banyak orang di tahun kemarin. Cuma bertemu saja, kalau yang kenal sepertinya tidak banyak. Tapi tidak apa-apa nanti juga bertemu lebih banyak orang lagi (cuma bertemu, kalau kenalan entah).
Jadi begitulah. Semua titik kecil ini tidak ada yang direncanakan, toh tetap menyenangkan juga (untungnya). Sebenarnya aku bingung tulisan ini mau di bawa ke mana, tadinya aku cuma mau menulis pengalaman pura-pura keracunan di depan kamera hingga mulut kebas saja. Dan itu pun sudah selesai di paragraf sembilan. Tapi tidak apa-apa, aku tambah satu paragraf lagi ya.
Tadinya tulisan ini akan diposting pada 31 Desember kemarin. Tapi yang menulis malah ketiduran dan saat bangun ternyata sudah terlewat satu tahun. Jadi ya sudah. Repot juga, karena harus mengganti kalimat tahun ini menjadi tahun kemarin karena sudah berganti tahun. Tahun ini (yang ini tidak diganti ke tahun kemarin karena memang merujuk ke tahun 2024) aku cuma mau kaya saja. Tapi itu susah, jadi semoga bisa menyenangkan saja setidaknya. Lebih banyak lagi titiknya kalau bisa. Titik kecil sepele namun bisa dirayakan dengan teman-temanku yang, aduh, sedikit sekali. Yang saking banyak titiknya, kalau aku tulis bisa menjadi untaian ratusan huruf H dalam kode morse. Tapi ya gitu, rencananya juga belum ada.